Biru bentuk molekul diatomik. Menggelikan didasar kulit hingga bercampur dengan merah. Diluar sigapan partikel debu menyumbat dosa. Namun tetap tercecer dilicinnya pori pori. Terukir goresan inisial yang tak jelas.
Terselubung menggeluti riak tak juga hilang. Mengunyah petaka tak kunjung membinasakan racun. Cuma menyusup diretakan dinding yang bisu.
Kisah itu bersemayam dengan subur diperjalanan waktu yang bertambah kisut namun abadi…
Lesung Pipi
Siang itu, semusim hujan bulan lalu dan lalu. Datangku ketempat berpayung dan bermejakan kayu yang ramai akan muda mudi berkerah maupun tak berkerah. Tak kusangka lamanya perjalannanku mengeringkan tenggorokan hingga menjadi dahaga. Bibir terasa keriput lemas. Ku ambil sebotol air mineral yang ada didalam lemari pendingin dipojokan itu. Ku minum sambil duduk dengan santai memandang teman yang asik memainkan alat masaknya. Sembari memandang lurus kedepan menatap puluhan orang yang berjalan mondar mandir dihadapan ku. Seketika… hembusan angin kecil kecil datang tak bilang bilang. Lewat dengan tebaran pesona embun tebal yang tersingkap dan tersirat oasis didalamnya. Dia, dengan kaos putih polos, celana jeans hitam, bersepatu cokelat dan berkacamata melangkah melewati ku pelan pelan dengan tolehan kecil menghadapku. Suasana hening yang aku anggap saat itu, sungguh aku melihat yang semestinya aku tidak terdiam. Tapi saat itu, guncangan teduhan karena angin saja tak terasa. Tepuk pipi sejenak “Apa aku sedang duduk manis di Surga dengan camilan buah Anggur segar tanpa biji.”
Ternyata tidak, aku tidak sedang di Surga ataupun berhalusinasi akan Surga. Hanya saja aku sedang terbuai, terbuai akan mu…
Aku memandangnya hati hati ketika Dia berdiri disampingku. Aku hanya sedikit melirik ingin tahu ketika Dia duduk didepan ku. Dan aku hanya berdiri manja dibelakang dengan punggungnya sebagai lukisan ku. Dia dengan senyuman berlesung yang menyamarkan pelangi sehabis hujan turun..

Coretan ini diiringi alunan nada yang rancu. Serancu hati ini..
Gulali ku siang ini, tak semanis biasanya. Mungkin takaran pemanisnya kurang.
“Bonn”
Kerahnya mungkin lupa. Sederhana, dengan rambut cepak lurus sedikit panjang berkulit kuning langsat dengan tinggi yang sesuai. Doyan menggoreskan dengan telunjuk dan ibu jari dipipinya. Hening jika mencari impian. Bermain pikiran dibangku kayu tua yang panjang itu. Secangkir kopi sesruput demi sruput tercicipi. Suasana panasnya siang itu melumerkan celetukan celetukan yang liar yang tak bertepi…
” Tanpa Tepian”
Sesungguhnya ragu itu ada
Beku menyuramkan asa
Melindungi yang tak Ku minta
Menyulam pikiranmu jauh disana
Langit indah itu berwarna nila
Udara sore disekeliling itu Dia
Ladang rumput dengan alang alang itu cerita
Awan putih penghias itu luka yang tertawa
Bukan sekedar tuangan imajenasih
Baju dengan lima kancing yang pipih
Diterangi lampu lampu kecil warnanya pelangi
Dengan pangkuan cerita yang tertata rapi.
Itu gusar yang menggelitik
Aku mengerti semua itu mengusik menjadi berisik
Menyadarkan lengah dan membantah
Demi hilangkan pikiran jengah
“Ragu Mu akan semakin membungkam mau Mu
Ragu Ku tak kan temukan mau Mu
Tak perlu berlari dan bertanya ulah Ku
Apa, mau apa setelah itu?”
Gulir Ku, secuil saja menabur benih
Yakini nantinya akan tumbuh setitik perih.

Dedicated to his.. My Elder Men in Mojojojo
Titik Ditengah Lingkaran
Aku termangu sejenak memandang padatnya kota ini ditingginya gedung lantai 11. Bukan orang orang yang berlalu lalang saling menyelip yang aku lihat, bukan pohon pohon tumbang terkena angin yang aku cari, bukan juga gedung gedung tanpa atap yang aku telusuri. Aku melihat susunan rasa sesal ku, aku mencari seberapa keikhlasanku, aku menelusuri jejak langkahku yang sudah aku lalui sebelumnya.
Aku bisa saja jengah akan lentiknya lampu kota. Aku juga bisa terperangah akan menawannya buaian sinar rembulan. Bukan.. Bukan itu yang sanggup ku tela’ah. Sirkulasi udara menafsirkan jutaan pikiran dalam otak ku yang mulai sesak. Dan selalu saja menciptakan tanya yang sama “apa aku salah? apa aku salah? apa aku salah?…”
Hey! Ini pikiranku! Aku yang atur! Aku yang pilih!. Nyatanya tidak! Hati ku mengucap “Tuhan ikut bermain. Tuhan ikut bermain. Tuhan ikut bermain.” Aku mau apa? senyum dengan bengalnya tanpa nada. Menggaruk kepala dengan mengerutkan dahi. Permainan seperti ini yang selalu tersuguhkan dan aku tetap bertanya.
Bersandar pada tembok batu. Melihat peri gigi bermain bola bola sabun. Iramanya ceria tanpa desakan. Lepas begitu saja dengan ringannya. Layak butiran pasir yang terbawa arus angin semaunya. Bermandikan kuningnya cahaya lampu kota dengan lagu kesukaan. Aku menunggu…
Ini sebuah kekonyolan atau hanya parau dalam prosa?…
